Selasa, 05 Mei 2015

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WICJK



Tenggelamnya kapal van der wijck adalah sebuah novel yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Hamka. Novel ini mengisahkan persoalan adat yang berlaku di daerah Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga berakhir dengan kematian. Novel ini pertama kali ditulis oleh Hamka sebagai cerita bersambung dalam sebuah majalah yang dipimpinnya. Pedoman masyarakat pada tahun 1938, kemudian diterbitkan sebagai novel pada tahun 1939. Dalam novel ini, Hamka mengkritik beberapa tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu terutama mengenai kawin paksa. Kritikus sastra Indonesia Bakri Siregar menyebut Van Der Wijck sebagai karya terbaik Hamka, meskipun pada tahun 1962 novel ini dituding sebagai plagiasi dari karya Jean-Baptiste Alphonse Kar berjudul Sous les Tilleuls (1832).

Ketika Zainuddin berumur 19 tahun, ia berkeinginan untuk kembali ke negeri nenek mamaknya di desa Batipuh (Minangkabau). Dengan berat hati mak Base melepaskan Zainuddin pergi. Setelah 15 hari, sampailah Zainuddin didesa Batipuh. Semula, ia disambut gembira oleh keluarganya tetapi lama-kelamaan sikapnya berubah. Karena Zainuddin dianggap anak pisang, maka dia tidak berhak mendapat gelar suku.
Keadaan seperti itu, membuat hati Zainuddin sedih, tapi keadaan menjadi berubah ketika ia berkenalan dengan Hayati, si kembang desa Batipuhitu. Zainuddin dan Hayati sama-sama jatuh cinta ,tapi Hayati tidak berani menerima cinta Zainuddin karena takut kecaman orang. Akhirnya, Hayati pun berani mengambil resiko, karena bagaimanapun ia terlanjur jatuh cinta.

Hubungan asmara Zainuddin dan Hayati menjadi bahan gunjingan orang Batipuh. Berita itu, sampai pula kepada datuknya Hayati. Melihat kenyataan itu, datuknya Hayati memanggil Zainuddin. Zainuddin disuruh pergi demi kebaikan Zainuddin sendiri dan Hayati. Sebelum Zainuddin meninggalkan Batipuh, ia berjanji kepada Hayati bahwa hanya mautlah yang dapatmemisahkannya. Setelahitu, Zainuddinpergike Padang Panjang.

Tidak lama setelah itu, Hayati diundang oleh sahabatnya di Padang Panjang, yaitu Khodijah, untuk melihat pacuan kuda. Dengan ditemani oleh mak Halimah, Hayati pergi ke Padang Panjang. Aziz, kakak Khodijah jatuh cinta pada Hayati.

Di pacuan kuda itu, Hayati bertemu dengan Zainuddin, tetapi hanya sebentar karena Khodijah mengajak Hayati pergi. Khodijah menghina Zainuddin dan mengatakan, yang penting dalam hidup itu bukan cinta, tapi harta dan Aziz punya hal itu. Sepulang dari Padang Panjang, Hayati bimbang apakah ia memilih Zainuddin ataukah Aziz.

Tak lama setelah pacuan kuda itu, keluarga Aziz meminang Hayati. Hayati menerimanya. Bersamaan dengan itu, datang pula lamaran Zainuddin. Tapi, Mamak Hayati menolaknya. Maka, perkawinan Aziz dan Hayati pun berlangsunglah. Sementara itu, Zainuddin sakit keras dan sering tak sadarkan diri.
Muluk, putra mamak yang ditempati Zainuddin di Padang Panjang, menganjurkan Zainuddin untuk mengembangkan bakat mengarangnya, Dan untuk itu ia harus pergi ke Jawa. Nasihat itu diterima Zainuddin. Bersama Muluk, Zainuddin pergi ke Surabaya.

Di Surabaya karir Zainuddin berkembang pesat. Ia telah menjadi sastrawan dan dramawan terkenal. Sementara itu, Hayati pun berada di Surabaya mengikuti suaminya bekerja. Berbeda dengan nasib Zainuddin, keadaan keluarga Hayati nyaris berada di jurang perpisahan. Aziz senang berjudidan main wanita.
Pada suatu hari,  dating undangan dari “Club Anak Sumatra”. Isinya adalah mengundang Hayati dan Aziz untuk datang menyaksikan sandiwara yang dikarang oleh anak Sumatra. Aziz dan Hayati pun  datang memenuhi undangan itu. Dipertemuan itu Hayati bertemu kembali dengan Zainuddin. Zainuddin sudah menjadi orang yang terkenal karena karyanya sehingga menjadi orang yang kaya raya.Sementara, kehidupan keluarga Hayati bertambah buruk. Aziz sering meminjam uang pada Zainuddin untuk berjudi. Orang-orang mulai menagih dan menyita rumahnya. Aziz pun dipecat dari pekerjaannya.

Dalam keadaan seperti itu, Aziz minta bantuan kepada Zainuddin agar diperkenakan tinggal di rumahnya. Zainuddin pun bersedia. Hayati tinggal di rumah Zainuddin dan Aziz pamit ke Banyuwangi untuk mencari pekerjaan. Tak lama kemudian datanglah berita bahwa Aziz telah bunuh diri di salah satu hotel Banyuwangi.  Aziz meninggalkan surat untuk Zainuddin yang isinya : Aziz ingin mengembalikan Hayati pada Zainuddin.

Zainuddin tak bisa menerima Hayati sebagai istrinya. Ia ingat masa lalu yang perih, ia membuatnya menderita selama ini. Dalam hati Zainuddin bergolakan tara cinta dan masa lalu. Akhirnya, Zainuddin meminta Hayati pulang ke Minangkabau. Hayati hanya bisa meratap, meneteskan air mata dan menuruti kemauan Zainuddin. Ia pergi ke pelabuhan diantar Muluk. Sebelum naik kapal Van Der Wicjk, Hayati titip surat untuk Zainuddin.
Setelah membaca surat Hayati, Zainuddin menjadi tersentuh, kasihan dan sadar bahwa cinta Hayati masih tulus. Ia akan tersiksa terus menerus tanpa Hayati. Akhirnya Zainuddin memutuskan untuk menjemput Hayati malam harinya di Jakarta.Tetapi sayang, pukul 14:00, ia membaca koran yang memuat berita bahwa kapal Van der Wicjk tenggelam! Seketika itu Zainuddin gemetar.

Dengan petunjuk agen KPM, Zainuddin dan Muluk menuju Lamongan karena korban dirawat di sana. Tubuh Hayati luka parah, Hayati bahagia karena di akhir hayatnya, ia bisa mengetahui bahwa Zainuddin masih mencintainya. Jenazah Hayati kemudian dimakamkan di Surabaya. Hidup Zainuddin selanjutnya, merupakan hari-hari kelabu. Ia jarang keluar. Akhirnya, ia pun meninggal.  Sesuai dengan pesan dan harapannya, ia dikuburkan di sisi kuburan Hayati, orang yang paling dicintainya. Sebelum meninggal, Zainuddin menulis surat wasiat bahwa seluruh kekayaannya diwariskan kepada Muluk dan hartanya yang ada di Makassar diwariskan kepada Daeng Masiga, orang yang mengurus hartanya selama ini.